Noisy Neighbours

Manchester City adalah fenomena sepakbola belakangan ini. Gelontoran uang tanpa batas dari pengusaha Arab membuat klub rival sekota Manchester United ini yang tadinya hanya klub semenjana merangkak pelan menjadi klub yang ditakuti. City membuktikan bahwa ambisi mereka untuk menaklukkan dunia bukanlah pepesan kosong. Musim ini mereka mengalahkan tetangga mereka lewat sebuah perjuangan yang dramatik.

Adalah gol emas Kun Aguero yang memastikan City meraih titel juara Inggris tahun ini. City sempat membuat United menjadi juara Inggris, tapi hanya selama dua menit. Menit berikutnya adalah keajaiban. Pemain, ofisial, dan fans berbaur dalam lapangan untuk berpesta bersama. Kebahagiaan tumpah ruah dalam deskripsi yang sulit untuk dideskripsikan. Terlepas dari tanggapan minor tentang City, keberhasilan mereka adalah sebuah kelayakan.

Malam itu, malam saat City juara begitu luar biasa. Bukan, saya bukan fans mereka, dan takkan pernah. Tapi saya kagum dengan cara mereka menang. Indah, dramatik, dan abadi. Saat Aguero mencipta gol bersejarah itu, tanpa sadar tangan saya mengetik “MY GOD, FOOTBALL IS AMAZING” di dunia kicau. Ya, saya menulis kalimat itu seluruhnya dalam huruf kapital. Sepakbola begitu luar biasa. Luar biasa.

Saya lalu mengingat masa sembilan bulan sebelum gol Aguero lahir. Saya sedang di atas kapal, di tengah malam yang begitu dingin, di tengah lautan. Kala itu saya dari Bali dan hendak menuju Lombok. Saya duduk sendirian di atas dek kapal bersama puluhan orang lain. Televisi di kapal itu menyiarkan pertandingan antara Manchester City dan Swansea. Itu pertandingan pertama City musim ini. City menang telak 4-0. Aguero mencetak dua gol.

Rupanya setelah kemenangan itu mereka menikmati musim yang fantastik. Sempat tersusul United, City akhirnya tersenyum paling akhir. Lebih getir lagi bagi United karena poin mereka sebenarnya sama dengan City, hanya kalah selisih gol. Sebuah spanduk di Etihad saat City mengalahkan United pada pekan 36 akhirnya menegaskan segalanya. Spanduk itu bertuliskan “the noisy neighbours are getting louder, Alex.”

Pippo

Sepakbola adalah anugrah. Karena ia adalah anugrah, sudah sepatutnya saya berterima kasih pada dua orang. Kedua orang itu mengenalkan saya pada anugrah tersebut. Orang pertama adalah ayah saya. Ia mengenalkan saya pada sepakbola dengan membelikan saya sepotong kaus sepakbola di suatu siang di pusat perbelanjaan di kota tempat tinggal kami. Ia pun yang menemani saya untuk pertama kalinya menikmati pertandingan sepakbola di layar kaca.

Orang kedua adalah orang yang tak pernah saya sentuh. Tapi ia menyentuh hidup saya dan mengubahnya menjadi berbeda. Entah bagaimana jika ia tak ada, akan samakah kehidupan ini? Ia hidup di benua biru, di selatan, di Italia. Pria itu bernama Filippo Inzaghi. Publik sedunia lalu sepakat menjulukinya dengan sebutan Pippo. Bagaimana caranya ia mengenalkan saya pada sepakbola? Melalui kaus sepakbola yang dibelikan ayah saya.

Kaus itu bercorak garis-garis hitam dan putih, dengan logo klub dan beberapa tulisan sponsor klub. Di belakang kaus itu tertera nomor sembilan dengan tulisan nama Inzaghi di atasnya. Saat itu saya hanya anak kecil polos yang tak tau apa-apa. Saya hanya menerima kaus itu dan larut dalam suruhan tangan takdir. Saat itu saya serasa ditakdirkan untuk memilih Juventus sebagai klub pujaan dan Inzaghi sebagai pemain paling dikagumi.

Takdir yang saya terima adalah sesuatu yang tak pernah saya sesali. Bahkan saat Inzaghi hijrah ke Milan semusim setelah kausnya saya pakai untuk pertama kalinya. Ia tinggal di kota mode itu sebelas tahun lamanya. Disana, di klub rival Juventus itu, ia hampir meraih segalanya, termasuk Piala Dunia. Ia hanya gagal meraih Piala Henri Delaunay. Ia juga sempat bercokol sebagai top skor Liga Champions Eropa. Ia benar-benar menaklukan dunia.

Tapi seorang yang perkasa pun tetap bertambah tua. Dan bertambah tua berarti waktu untuk berhenti kian mendekat. Termasuk bagi Pippo. Akhir musim ini ia sepakat untuk meninggalkan Milan, meski belum mau pensiun dari sepakbola. Ia membuat sebuah gol emosional di laga terakhirnya untuk Milan. Oh Tuhan, bahkan di ujung hidupnya di Milan ia tetap mencetak gol. Dan gol itu adalah penanda bahwa ia begitu spesial.

Gol tersebut bisa disebut sangat khas Inzaghi, tipikal gol yang biasa ia lakukan. Memanfaat kepandaiannya mencari posisi dan dengan sekali dua sentuh sanggup mengoyak jala lawan. Dalam beberapa kali obrolan di meja kantin dengan kawan kampus, kami sepakat bahwa Inzaghi adalah satu-satunya striker hebat dunia yang tak punya kemampuan lain selain mencetak gol. Karena itulah ia begitu istimewa.

Keistimewaannya mungkin akan berakhir satu atau dua tahun lagi. Kita akan kehilangan sosok pencetak gol ulung. Takkan ada lagi striker di dunia yang sanggup menirunya. Inzaghi adalah satu-satunya di dunia. Mungkin butuh seribu tahun lagi untuk melihat pemain sepertinya. Tapi sebelum masa itu tiba, ada baiknya kita berharap Super Pippo menemukan labuhan yang tepat, tempat ia mencetak gol-gol yang hanya bisa diciptakan oleh dirinya.

Melankolia

Adalah sebuah anomali jika kerinduan akan seseorang pecah di siang yang begitu panas, begitu pengap, begitu sesak. Biasa rindu hadir dalam balutan gelap malam atau rintik hujan yang jatuh memecahkan sunyi. Jika ia mampu hadir dalam terang yang menyala-nyala, apakah artinya? Mungkinkah ia terlalu besar, terlalu megah, hingga waktu dan suasana tak lagi punya arti?

Mungkin tadi malam menyimpan jawab. Saat kaki menuju suatu tempat di sudut kampus yang mau tak mau mengarahkan mata ke seberang, ke tempat lain, ke bangunan lain di pinggir jalan kecil yang memisahkan dua disiplin yang berbeda, memisahkan dua logika berpikir yang berbeda, memisahkan seseorang dengan orang lain yang dirindukannya, yang tak bisa ia sentuh, tak bisa ia tatap, tak bisa ia raih. Seseorang itu tersenyum getir menatap langit malam.

Dan rasa yang mencekam itu tak kunjung habis, bahkan setelah gelap malam berganti terang siang. Rasa itu masih mendekap erat, begitu mencekik, begitu menyesakkan dada. Mungkin hanyalah sepotong sastra Hemingway yang sanggup mengalihkan, tapi toh itu hanya sementara, sebelum ia datang lagi dengan brutalnya. Kemudian yang terjadi adalah ketikan-ketikan ini, yang mungkin sanggup menyembuhkan kepiluan.

Tapi dunia masa kini begitu baik meski kadang ia juga pongah. Ia sanggup mengantarkan kita di sudut rumah ke tempat lain di seberang lautan, saat seseorang melempar senyum entah kemana, senyum yang begitu bahagia. Rambutnya tergerai terkibas angin pesisir, berantakan memang, tapi ia begitu lepas, begitu bebas, begitu alami. Mengingatkan pada sosok ibu yang di suatu pantai sedang tersenyum juga, rambut gelombangnya pun terayun angin.

Masihkah kita ada kesempatan?

 

PS: Judul diatas jelas mencontek sebuah judul lagu Efek Rumah Kaca, sementara kalimat terakhir adalah sepenggal lirik Payung Teduh di salah satu lagunya

Runyam

Rasanya kepala ini mau meledak. Mungkin dalam artian sebenarnya. Mungkin berlebihan. Tapi sumpah, ada semacam rangsangan yang rasanya sanggup memecahkan kepala menjadi puing-puing kecil tak berarti. Entah apa yang membuatnya ingin meletus. Saya duga tumpukan tanggung jawab yang datang serentak, tanpa ketuk pintu, masuk merangsek begitu saja, tanpa tahu isinya sudah penuh terisi. Jadilah seperti saat ini.

Akumulasi obligasi menghilangkan seni pada kehidupan. Jadilah tubuh seakan menjadi robot yang patuh pada remote control. Semua pikiran tertuju pada tugas seabrek itu. Mungkin tak benar-benar banyak, hanya saya tak terbiasa mengerjakan dua hal atau lebih dalam satu waktu. Pernah melakukan itu, cuma tak menyukainya. Dengan itu semua saya merasa ada yang hilang. Seperti kenyamanan menulis dan membaca buku. Rasanya tak tenang.

Ketidaktenangan itu jelas muncul dari belum tuntasnya tumpukan tanggung jawab itu. Menulis jadi tak dapat mengalir seperti air, membaca jadi tak fokus pada kata di depan mata. Seperti ada suruhan yang melarang untuk menulis dan membaca sebelum tugas selesai. Tentu tak hanya baca tulis, tapi juga hobi-hobi lain yang sering menjejaki waktu-waktu yang luang. Mungkin ini rasanya jadi buruh.

Tapi setidaknya saya terbiasa mengajari diri saya untuk belajar pada apapun. Termasuk pada pengalaman ini. Pengalaman yang mengajarkan bahwa tidak melakukan apa-apa adalah segalanya. Mengingatkan saya pada suatu adegan di film Eat, Pray, Love yang menyebut frasa “the art of doing nothing”. Saya lupa keseluruhan adegan itu, hanya frasa itu saja yang masih menempel. Kini ia muncul dalam segala kerunyaman ini. Mari lari.

Tentang Telepon Genggam yang Menggenggam Seisi Kehidupan

Suatu malam di sebuah kereta listrik yang cukup sesak, saya berdiri bertumpu pada kedua kaki, dengan kepala menempel pada pintu kereta, mencoba memejam mata, mengusir waktu yang terasa begitu lama di dalam kereta. Itu tak lama. Lelah dalam posisi seperti itu, saya pun berdiri saja sambil mengamati kerlip lampu di luar jendela yang samar. Saya pun mengamati sekitar, menikmati suasana, meresapi manusia.

Tak hanya saya yang berdiri di kereta itu. Puluhan, bahkan mungkin ratusan orang lain berdiri sama seperti saya. Termasuk barisan orang di sebelah kiri, di belakang saya, semua mengarah ke jendela. Mereka terdiri dari kurang lebih sepuluh orang yang berdiri berhimpitan bersebelahan. Ada laki-laki, ada perempuan. Mereka semua sama dalam satu hal: kepala menunduk menatap cermat layar ajaib dalam genggaman tangan masing-masing.

Setelah mata saya mengelilingi gerbong saya berada, ternyata tak hanya barisan orang-orang tersebut yang kepalanya tertunduk dan sibuk dengan sesuatu di tangannya. Hampir semua membentuk konfigurasi tubuh yang seragam, meski dengan muka dan pakaian yang beragam. Saya adalah salah satu dari sedikit yang tidak menghadapkan kepala ke bawah, kepada sesuatu yang ajaib, sesuatu yang dianggap modern, sesuatu yang mungkin lebih sakral dari Tuhan.

Kereta rupanya tetap berjalan seraya saya merenungi manusia. Ia lalu berhenti di suatu batas waktu, menurunkan saya dan beberapa orang lain di stasiun yang tak lagi asing. Saya dan dua orang teman berjalan menembus hutan, menembus malam, menuju kampus tercinta tempat siksaan mendera. Hanya sebentar di lingkungan kampus, kaki saya lalu bergerak menuju mobil. Saya kendarai mobil itu, menibakannya di tempat cucian mobil 24 jam.

Saya menunggu mobil itu dicuci hingga bersih dan mengkilap seperti kerlip bintang. Sambil menikmati teh botol dingin saya memperhatikan mobil saya yang sedang dicuci, saya juga memperhatikan mereka yang mencucinya, saya juga memperhatikan mobil-mobil lain yang dicuci di sebelah mobil saya, saya juga memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu sama seperti saya.

Saya melihat sebuah pola yang sama persis dengan apa yang saya lihat di dalam kereta. Di sebelah kanan saya tiga orang sedang duduk sendirian menanti mobil masing-masing, kepalanya menunduk, fokus pada benda yang benderang, yang membuat mereka serasa tak sendiri, yang memungkinkan mereka bicara tanpa membuka mulut, yang mereka genggam dengan erat, seakan enggan mereka lepas sedetikpun. Sesuatu itu mungkin lebih ajaib dari voodoo.

Saya kembali sama sekali tak menggenggam apa-apa. Tangan saya bebas seperti sayap kupu-kupu, paling sesekali menggenggam bibir botol. Saya juga memiliki benda yang ajaib, benda yang sakral, benda yang menerangi tadi. Tapi saya menyelipkannya dalam kantung celana, membiarkannya diam, lebih diam dari mayat yang kaku membujur. Saya tak begitu silau pada sinarnya, tak begitu kagum pada maginya, tak begitu ingin menggenggamnya setiap waktu.

Sesuatu tadi bahkan membuat saya menyimpan sebuah cita-cita yang tak biasa. Saya ingin hidup tanpanya. Saya ingin membuangnya di suatu samudera yang lautnya tak berdasar, membiarkannya tenggelam hingga kedalaman yang tak terkira, melepaskannya seperti anak kecil masa bodo yang membiarkan layang-layangnya lepas dirampas angin jahat. Saya tak ingin menggenggamnya lagi, pada suatu waktu, bukan saat ini memang.

Sesuatu itu awalnya memang kita genggam, kawan, tapi sadarkah ia perlahan sedang menggenggam seluruh hidup kita, membiarkan kita terkungkung dalam genggamannya, membuat kita menjadi tak lebih mulia darinya, mencuri kenikmatan lain serupa indahnya udara bebas yang kita hirup tiap harinya, mencuci otak kita dengan mimpi dan fantasi dan imajinasi yang semu, palsu, penuh dusta, dan sementara. Akhirnya kita dan sesuatu itu saling menggenggam.

30

Semua yang bermula pasti punya akhir.

Malam tadi penantian panjang Juventini di seluruh dunia habis sudah. Enam tahun tak menggapai puncak singgasana Serie A terbayar dengan gelar juara Italia ketiga puluh. Di Trieste, sejarah melukis dirinya sendiri. Nyonya Tua yang beberapa tahun belakangan terjerembab dalam keterpurukan, telah kembali cantik mempesona. Ia kembali dengan sinar yang benderang. Perisai Italia direbut dari musuh rossoneri. Bintang tiga tersemat di atas lambang klub.

Adalah sebuah kewajaran jika ditemukan Juventini yang menangis tadi malam. Melihat pemandangan di atas lapangan Nereo Rocco pasca wasit meniup peluit akhir memang sungguh menyentuh hati dan jiwa para Juventino. Seakan semua duka lara tumpas. Penderitaan tandas. Pembalasan terbalas sempurna. Juve jadi raja Italia lagi seperti habit aslinya. Turun ke Serie B oleh skandal curang bikinan Moratti tak mengandaskan Juve ke jurang terbawah. Juve kembali.

Penampilan impresif sepanjang musim terbayar dengan indah dan dramatik di pekan ke tiga puluh tujuh saat selisih poin dengan Milan baru terpangkas menjadi satu poin lagi. Tidak pernah kalah di semua ajang, rekor kebobolan paling minim di Eropa, dan ball possession yang baik adalah catatan suci Juve dalam perjalanannya merengkuh mahkota. Mahkota berbintang tiga yang semuanya diraih mati-matian di atas lapangan. Bukan pengadilan.

Malam itu di Italia (dan di belahan dunia lain) seluruh Juventini berpesta, dengan tawa, dengan airmata. Kata-kata pada akhirnya tak sanggup menggambarkan suasana di Stadion Nereo Rocco tadi. Ribuan fans turun ke lapangan, mengerubungi pemain, dan sama-sama menyanyikan “campione campione campione.” Yang sisa bagi mereka yang menyaksikan dari layar kaca hanyalah haru. Haru yang sekali lagi tak bisa dilukis dengan kata, hingga akhirnya kata habis disini.

Budaya Massa dan Masa Kecil yang Kembali

Suatu pagi di kelas yang dingin di penjara paling baik di negeri ini, otak saya kembali disesaki kata baru. Kata hasil pemikiran orang-orang neo marxis (kalau tidak salah), mass culture. Saya sendiri tak paham dengan jelas mengenai konsep itu. Secara sederhana saya hanya menangkapnya sebagai budaya ikut-ikutan. Entah tepat atau tidak, siapa peduli. Saya lalu melihat sekitar mencoba menemukan padanan konsep itu dalam realita sebenarnya. Saya juga mengaca.

Saya jadi ingat soal perkembangan dunia traveling di negeri ini. Traveling kini telah menjadi tren yang menghebohkan seiring tumbuh pesatnya penggunaan media massa dan media sosial. Tentu tak hanya internet dan televisi, beberapa variabel lain tentu mempengaruhi juga. Tren tersebut membuat orang-orang melakukan perjalanan ke berbagai tempat dengan berbagai gaya yang berbeda, mulai dari yang turistik hingga yang ala backpacker.

Sebagai sebuah arus gaya hidup yang berkembang cepat dan massal, traveling mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Benarkah orang-orang itu benar-benar ingin melakukan traveling? Atau sekedar terseret arus budaya massa, sekedar ikut-ikutan mengkonsumsi tren itu agar terlihat keren? Mengertikah mereka esensi dari kegiatan yang mereka lakukan itu? Atau sekali lagi hanya terjebak pada keharusan untuk mengkonsumsi gaya hidup itu?

Tiap orang tentu punya jawaban yang beragam atas rentetan pertanyaan diatas. Saya tak tahu pasti dan tak mau mengira-ngira jawaban orang-orang. Lebih baik saya menengok cermin. Saya kemudian melihat sosok diri sendiri sebagai orang yang melakukan traveling belakangan ini. Terhitung sejak tiga tahun lalu saya mulai melakukan perjalanan seorang diri dan kemudian terpikat candu menjadi traveler yang menikmati tempat-tempat asing.

Saya lalu mempertanyakan pada diri sendiri hakikat dari traveling yang saja jalani. Mengertikah saya pada esensinya? Atau jangan-jangan saya juga terjebak pada arus budaya massa itu? Dengan gemetar saya bisa memastikan bahwa ketika mulai menyukai jalan-jalan, traveling belum jadi hits seperti saat ini. Saya memilih hobi ini murni karena pengalaman pertama yang membikin saya ketagihan, bukan karena seruan kicau orang-orang di dunia kacau itu.

Tapi saya mulai ragu ketika merenungi bahwa mungkin saja berkembangnya hobi traveling pada diri ini dipengaruhi oleh media sosial, majalah, maupun hal-hal lain yang bisa mengaburkan kesadaran dan membuat orang menjalani konsumsi tanpa mengerti esensi. Untunglah saya membiasakan diri untuk mengerti esensi dari sesuatu yang saya lakukan atau sukai. Meski mungkin esensi itu tak utuh sempurna, paling tidak saya tak pasrah jadi wayang yang dungu.

Tapi perenungan akan esensi itu tak pernah usai. Saya tetap mempertanyakan. Yang paling dahulu tentu mengapa saya menyukai jalan ke tempat yang tak pernah dilihat sebelumnya, melihat orang dengan mulut mengucap bahasa yang unik, dan tersesat dalam kesenangan yang aneh itu dalam situasi seorang diri atau kadang berdua bersama seorang teman. Saya justru menemukan jawaban yang agak membuat saya tercengang.

Saya terbawa ingatan tentang anak kecil yang bersama adik perempuan dan beberapa teman di dekat rumahnya senang berjalan maupun bersepeda keliling komplek dan terkadang keluar. Anak kecil itu memimpin rombongan yang  lebih muda darinya menapaki hutan-hutan kecil di dekat komplek, atau pekarangan luas penuh ilalang yang terletak di dekat tempat pembuangan sampah komplek. Anak kecil itu adalah saya.

Secara sporadik saya lalu berkesimpulan bahwa kecintaan pada traveling belakangan ini adalah wujud pengembalian kehidupan masa kecil saya. Masa kecil itu menarik saya ke dalam putarannya lagi. Meski dalam tubuh pemuda yang sedang dipecut kehidupan akademis nan menyiksa, saya jadi anak kecil lagi. Anak kecil yang suka bertualang melihat tempat indah yang terasa asing, merasakan nikmatnya menjadi pengembara yang tersesat.

Saya jadi semakin yakin bukan budaya massalah variabel utama yang menyeret saya bermimpi berkelana ke berbagai tempat. Meski tak dapat dipungkiri bahwa televisi, internet, dan buku perjalanan merupakan pemantik yang baik bagi api jiwa pejalan yang kadang redup ini. Api itu telah ada sebelumnya sejak masa anak-anak, tetap ada meski kadang padam, dan kini api itu menyala deras. Entah kapan akan meredup. Apalagi padam.